Bagi saya, ada dua tipe perempuan di dunia ini. Atau sederhananya, dalam hidup saya. Tidak bermaksud melabeli seseorang, namun bagi saya dua tipe perempuan ini adalah yang paling kuat.
Kalau saya sih mungkin termasuk perempuan siang ya (ditinjau dari jam bangun tidur). Tapi post kali ini tidak akan membahas betapa sulitnya saya bekerjasama dengan 10 baris alarm di ponsel pintar saya.
Perempuan Senja
Begitu sering disebut dalam bait sajak dan puisi. Dideskripsikan sebagai tipe perempuan pejuang, tegar, dan pemikir hebat. Seperti orang-orang yang berebutan melihat matahari terbenam dalam sudut yang pas, perempuan senja mendapat posisi terhangat di hati penikmatnya. Perempuan senja memiliki senyum yang meneduhkan, mengistirahatkan, membelai lembut, seolah-olah memberitahu 'hari sudah lalu, waktunya bersantai', dan mencoba mengambil alih sibukmu untuk sejenah menikmati cahaya indah itu.
Tapi senja tidak sesempurna itu, begitu juga perempuan. Ada luka yang harus ditanggung, ada pedih yang tidak terkatakan. Perempuan senja sudah melewati pagi, siang, dan sore. Sudah banyak kisah yang ia mengerti, juga banyak keluh yang tidak terucap.
Namun, terlepas dari segala hal yang ia lalui, ia masih tetap terlihat indah. Ia tetap menawarkan pundak untuk bersandar. Ia seolah menyimpan luka itu sendirian agar para penikmatnya tetap bahagia. Siapa sangka, luka itu yang membuat rindu. Menciptakan keinginan untuk menyembuhkan bagi yang melihatnya. Menciptakan rangkulan untuk duduk dan saling bercerita keluh kesah, masalah, dan resah.
Dan di akhi senja akan ada sapuan yang seolah mengatakan "Tak apa, aku juga sepertimu."
Siapa coba yang tidak akan jatuh cinta pada perempuan jenis ini?
Perempuan Pagi
atau fajar (kali ya... ehe)
Yang sering terlewatkan, karena begitu nyamannya malam membuai kita. Digambarkan sebagai tipe perempuan yang cemerlang, idealis, dan menjanjikan. Sayangnya, sering sekali terlewatkan karena butuh perjuangan untuk menikmati keindahan cahaya di awal hari. Namun, seberapa sering ia terlewatkan, ia akan muncul lagi... memberi kesempatan di hari berikutnya. Perempuan pagi menyediakan harapan, doa, perlindungan, dan juga kejutan-kejutan yang kadang-kadang tak terbayangkan. Auranya menciptakan keceriaan. Dia tidak tersenyum, dia tertawa bahagia.
Perempuan pagi bukannya tanpa beban, ia pandai menyembunyikan. Seperti fajar yang memudarkan malam, tawanya selalu berhasil menutupi. Mungkin tujuannya adalah membahagiakan penikmatnya, bahwa sisa hari akan berlalu dengan baik-baik saja. Kecewanya ia pendam sendiri, lukanya tak ingin dibagi.
Tidak seperti perempuan senja, ia jarang dirindukan. Cukup diketahui saja. Tidak ada yang berani menikmati lebih jauh. Terlalu mengintimidasi dengan keceriaannya. Terlalu bersinar meski belum diinginkan.
Karena siapa yang ingin berbagi sedih dengan orang yang tawanya selalu membahagiakan?

Komentar
Posting Komentar